Hasil Pencarian Anda

SEKTOR PROPERTI & KONSTRUKSI, KUNCI PENGEMBANGAN BISNIS PERBANKAN 2017

Posted by aanorzam on Oktober 9, 2017
| 0

Rumah2in1.com – Memasuki semester II 2017, agaknya sektor konstruksi dan properti masih menjadi sektor yang diandalkan oleh perbankan dalam penyaluran kreditnya. Hal itu bisa terlihat dari laporan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Bahwa penyaluran kredit paling banyak berasal dari sektor konstruksi 24%, listrik 31,05%. Sementara peningkatan  kredit pada sektor perbankan terjadi pada 3 sektor yaitu konstruksi, properti dan KPA ( Kredit Pemilikan Apartemen ).

Muliaman Darmansyah Hadad, selaku Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, bahwa tingginya penyaluran kredit yang dilakukan oleh sektor perbankan. Pada dasarnya memang karena di dorong dengan melimpahnya dana pihak ketiga ( DPK) yang hingga saat ini telah tumbuh  dua digit sekitar 11,18% (yoy).

Hingga memasuki semester II 2017, sektor perbankan nyatanya telah menyalurkan kredit sebesar Rp4,494 triliun. Dimana peningkatan pertumbuhan kredit itu sendiri terjadi pada sektor KMK ( Kredit Modal Kerja), KI ( Kredit Investasi), dan KK ( Kredit Konsumer). Jika di breakdown sesuai dengan kondisi yang ada, maka  Kredit Modal Kerja hingga Juli 2107 telah tersalurkan sebesar Rp2,073 triliun. Angka tersebut jika dibandingkan dengan bulan Juni 2017 terjadi peningkatan sebesar 7,5% (yoy). Hal yang sama juga terjadi pada kredit real estat ( properti). Dari 12,1 % pada bulan Juni 2017 pada akhirnya meningkat menjadi Rp14,2% pada bulan Juli 2017.

Dari banyaknya perbankan yang ada di Indonesia, pada akhirnya kita bisa melihat bahwa perbankan plat merah atau masuk katagori Bank BUMN menjadi perbankan yang paling banyak menyalurkan kredit untuk di kedua sektor tersebut. Sekedar informasi, tahun lalu Pemerintah menganggarkan dana sekitar Rp313 Triliun hanya untuk pembangunan infrastruktur di seluru Indonesia.

Komposisi yang terjadi pada bank plat merah dalam menyalurkan kreditnya dapat dilihat dari penjelasan berikut : Bank BNI 1946 atau biasa di sebut PT. Bank Negara Indonesia, Tbk misalnya, di tahun 2015 jumlah kredit yang disalurkan je sektor   infrastruktur sejumlah Rp66,19 triliun. Naik sekitar 30,4% (yoy) jika dibandingkan dengan kredit  yang disakurkan pada tahun 2016 sekitar Rp86,3 triliun.

Sementara PT.Bank Mandiri, Tbk hingga saat ini juga melakukan peningkatan penyaluran kredit dari  nilai total nilai yang mesti di keluarkan Bank Mandiri. Tercatat Rp57,3 triliun pada tahun 2016, dimana untuk total kredit yang disalurkan oleh Bank Mandiri sebesar Rp104,6 triliun. Dana tersebut di salurkan oleb Bank Mandiri untuk beberapa pembiayaan yang cukup strategis seperti misalnya : pembangunan  jalan tol sebesar  Rp14,5 triliun, pembangkit listrik sebesar Rp39,3 triliun, transportasi senilai Rp 38,2 triliun da terakhir telekomuniasi yang disalurkan kredit sebesar Rp 12,6 triliun.

Dari kondisi yang ada di atas, wajar memang  jika pada akhirnya Bank Indonesia menyatakan bahwa sektor infrastruktur dan sektor properti yang ada di dalamnya merupakan sektor bisnis yang menjadi salah satu sektor yang menopang pertumbuhan kredit di tahun lalu.

Kenapa, karena kedua sektor inilah yang memiliki multi flyer efek yang paling banyak dibandingkan dengan sektor bisnis lainnya. Sehingga ketika kedua sektor ini jalan dan bangkit, sudah pasti ribuan multi flyer efek yang langsung atau tidak langsung terkait dengan kedua sektor inipun akan bangkit mensupport keberadaan sektor intinya.

Dari situ kita bisa melihat, ketika semua sektor bangkit dan semua mesti melakukan aktivitas sudah pasti sekor perbankan adalah salah satu sektor yang akan mampu melancarkan aktivitas bagi semua sektor yang ada. Sehingga keterkaitan antara sektor inti properti dan konstruksi dengan sektor perbankan menjadi satu mata rantai yang akan saling berhubungan dan  bersinergi untuk tetap mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan.

Penulis Achmad S adalah Content Writer di Rumah2in1.com. Dapat dihubungi via email: achmad.rumah2in1@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan